Rabu, 23 Maret 2016

Konsep Normal dan Abnormal

PENDAHULUAN

Dalam keseharian orang normal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang tergolong abnormal di luar kesadarannya. Sebaliknya orang abnormal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan lisan seperti orang normal. Terkadang, kita salah mempersepsikan apakah perbuatan atau perkataan diri sendiri atau orang lain termasuk kriteria normalkah? Atau abnormalkah? Oleh karena itu, diperlukan batas-batas yang membedakan antara normal dan abnormal sehingga kita dapat membedakan antara normal dan abnormal sehingga kita dapat membedakan secara jelas.

TEORI

Definisi Umum

Berikut pengertian keadaan normal secara konseptual :
Sehat adalah keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa keadaan yang lemah tertentu.

H.B. English, seorang psikolog, memberikan rumusan sebagai berikut : “kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap dimana sang pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri. Kesehatan mental merupakan keadaan positif bukan sekedar absennya gangguan mental”.

W.W. Boehm, seorang pekerja sosial, memberikan sesuatu pengertian, “kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.”

Dari rumusan tersebut menekankan normalitas sebagai keadaan sehat yang secara umum ditandai dengan penyesuaian diri yaitu menjalankan kewajiban serta tuntutan hidup sehari-hari sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.

Konsep Normal
Manusia yang normal adalah manusia yang perilakunya dapat diterima oleh masyarakat.
Definisi normal menurut beberapa tokoh :

Stern (1964)
Stern mengusulkan 4 aspek untuk menilai normal atau tidaknya seseorang , yaitu :

Kemampuan integrasi
Ialah fungsi ego dalam mempersatukan, megkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi suatu perilaku atau pemikiran, makin baik.

Ada tidaknya symptom gangguan
Kesulitannya adalah bahwa pada kasus-kasus tertentu, misalnya gangguan kepribadian, seringkali simptomnya tidak jelas dan subyek tidak punya keluhan.

Kriteria psikoanalisis
Yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual.

Determinan sosiokultural
Lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.

Ulmann dan Krasner (1980)
Tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau abnormal, tetapi harus dilihat sebagai hasil dari keadaan masa lalu masa kini, statistik, dan legal (hokum) tentang abnormalitas.
Menghubungkan tingkah laku manusia dengan kompetensi, tanggung jawab atas perbuatan kriminal serta komitmen.

Gladstone (1978)

William Gladstone dalam bukunya “Test Your Own Mental Health” meguraikan pegangan-pegangan praktis untuk menilai kesehatan mental sendiri.

7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu:
Ketegangan
Suasana hati
Pemikiran
Kegiatan (aktivitas)
Organisasi diri
Hubungan antar manusia
Keadaan fisik

Masing-masing aspek memiliki kriteria tingkah laku yang dijadikan pegangan penilaian ‘normal’ nya penyesuaian.

Konsep  Abnormal
Suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Perilaku abnormal (abnormal behavior) bagi para ahli psikologi seringkali disebut dengan gangguan perilaku (behavior disorder), atau ada juga yang menyebutnya lain dengan mental illness (Morgan dkk., 1984).
Untuk mendefinisikan abnormalitas tersebut Atkinson dkk. (1922) mencoba membandingkannya antara perilaku abnormal dengan perilaku normal. Beberapa cara untuk mendefinisikan perilaku abnormal antara lain adalah :

Penyimpangan dari Norma Statistik
Kata abnormal dapat berarti “di luar normal”. Definisi abnormalitas didasarkan kepada penyimpangan kurve normal dalam statistik. Pendefisian ini barangkali menjadi lemah, karena bagi orang yang cerdas atau sangat gembira akan dapat digolongkan sebagai abnormal.

Penyimpangan dari Norma Sosial
Perilaku yang dianggap dianggap normal oleh suatu masyarakat bisa jadi dianggap abnormal oleh masyarakat lain. Misalnya, perilaku poliandri bagi kebanyakan masyarakat di dunia dianggap sebagai abnormal, sementara bagi masyarakat gurun di Nepal, dimana pria umumnya bekerja berhari-hari meninggalkan istrinya, perilaku poliandri dianggap normal-normal saja. Jadi, baik perilaku normal maupun abnormal ternyata berbeda-beda dari kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya.

Perilaku Malapdaptif
Kriteria terpenting adalah bagaimana perilaku tersebut berpengaruh pada pribadi seseorang dan/atau kelompok. Oleh karena itu perilaku abnormal kemudian disebut perilaku maladaptif (tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan), yang memiliki dampak yang merugikan dan membahayakan orang lain atau masyarakat.

Kesusahan Pribadi
Kriteria keempat untuk menilai abnormalitas adalah dari sudut pandangan subjektif seseorang dan bukannya perilaku orang tersebut. Umumnya orang yang didiagnosis menderita “sakit jiwa” mengalami penderitaan batin yang akut, selalu khawatir, batinnya menderita, gelisah, tidak dapat tidur, nafsu makan hilang, mengalami berbagai macam rasa sakit dan nyeri. Terkadang penderitaan batin hanyalah merupakan gejala abnormalitas, dimana perilaku penderita tampak normal-normal saja bagi orang awam.

Neurosis dan Psikosis
Neurosis atau gangguan jiwa adalah gejala yang umum yang dialami oleh manusia pada taraf tertentu. Neurosis mencakup sekelompok gangguan yang ditandai dengan stress, kecemasan, kesedihan, atau gangguan maladaptif lain yang pada tingkat tertentu perlu dirumahsakitkan. Individu umumnya masih dapat berhubungan dan berfungsi di masyarakat, meskipun tidak dalam kapasitas yang penuh. Sementara itu psikosis meliputi gangguan yang lebih serius. Perilaku dan proses berpikir individu sudah mengalami gangguan sedemikian rupa, sehingga sudah tidak ada lagi kontak dengan realitas. Individu juga tidak dapat berfungsi di masyarakat. Oleh karena itu, penderita psikosis tersebut perlu untuk dirumahsakitkan.


Klasifikasi Gangguan
Beberapa perilaku dapat diklasifikasikan atau digolongkan sebagai perilaku abnormal. Berdasarkan sifatnya, perilaku abnormal dapat digolongkan menjadi empat :
Yang bersifat akut dan sementara, yang disebabkan oelh peristiwa yang penuh dengan stress
Yang bersifat kronis dan selama-lamanya
Yang disebabkan oleh penyakit atau kerusakan pada sistem saraf
Yang merupakan akibat dari lingkungan sosial yang tidak menguntungkan dan/atau pengalaman belajar yang keliru.


Analisis
Leny berusia 7 tahun. Saat ini dia duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Orang tuanya seringkali mendapatkan masukan dan laporan dari gurunya bahwa dia seringkali jalan-jalan di kelas. Leny lebih banyak berdiri dan tidak fokus pada pekerjaan sekolahnya. Orang tuanya pun mengakui bahwa dirumah pun seperti itu. Seringkali Leny berganti-ganti aktivitas dan tidak pernah sampai selesai. Misalnya, bermain bongkar pasang dan selang beberapa menit kemudian sudah beralih pada permainan yang lain. Kondisi seperti ini bisa mempengaruhi prestasinya di sekolah. Leny seringkali sulit dikontrol. Dia sering mengabaikan apa yang orangtuanya perintahkan.
Hal ini dapat terjadi karena dia tidak dapat menyelesaikan tugas dengan penuh perhatian dan proses belajar yang terganggu. Oleh sebab itu sangat penting jika orang tua maupun pendidik dapat melakukan deteksi atau mengetahui lebih awal yang terjadi pada anak sehingga dapat dilakukan penanganan dengan tepat.
Pada kasus Leny dan yang akan kita bicarakan lebih jauh merupakan sebuah ilustrasi mengenai Gangguan Pemusatan Perhatian atau Attention Deficit/ Hiperactivity (ADHD).

Attention-Deficit Hyperactivity Disorder ( ADHD )

ADHD adalah sebuah gangguan dengan karakteristik adanya gejala kurang perhatian yang diikuti dengan hiperaktivitas maupun tidak (Monastra, 2005).
Bentuk dan Karakteristik Hyperactivity Disorder
Anak yang tergolong pada kategori ini menunjukkan perilaku yang konsisten dalam hal perilaku yang diluar batas normal seperti anak-anak pada umumnya. Terdapat kategori anak yang tergolong hyperactivity disorder menurut Ormrod (2011), Santrock (2009), dan Eggen (2004), yaitu :

INATTENTION. Anak yang tergolong pada kategori ini mengalami kesulitan untuk memfokuskan perhatian dan menjaga kestabilan perhatian, terutama dalam mengerjakan tugas. Anak mengalami kesulitan mendengar dan mengikuti perintah, sering membuat kekliruan, dan salah paham atau sangat mudah melakukan hal-hal di luar dugaan.

HYPERACTIVITY. Anak yang tergolong kategori ini tampaknya memiliki tenaga yang berlebihan, bergerak dengan tidak berarah ke mana saja semaunya tanpa memperhatikan orang lain atau aturan yang berlaku, dan sering membuat keributan di antara teman sebayanya.

IMPULSIVITY. Anak yang tergolong kategori ini memiliki kesulitan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan dan tidak memperhitungkan risiko yang akan ditimbulkan. Perilakunya tiba-tiba muncul secara spontan tanpa pernah memperhatikan lingkungan dan tidak pernh memikirkan apa dampak dari perbuatannya.

Adapun karkteristik umum yang dapat diamati dari anak yang tergolong hiperaktif tersebut menurut Ormrod (2011) adalah :

Menunjukkan kreativitas dan imajinasi di luar kebiasaan

Mengingat secara mendetail peristiwa masa lalu yang dialaminya

Proses kognitifnya mengalami hambatan pada hal-hal tertentu dan prestasi belajar rendah

Ketidakmampuan memahami diri sendiri
Selalu membuat masalah didalam kelas, perilakunya sulit dikendalikan secara normal

Keterampilan sosialnya sangat rendah dan banyak ditolak oleh teman sebayanya

Perilaku tersebut terkadang terbawa ke masa remaja


Strategi Penyesuaian Pembelajaran bagi Anak Hiperaktif
Dengan mencermati keberadaan anak hiperaktif, maka diperlukan kemampuan guru dalam memberi pelayanan yang sesuai dengan kondisi anak, agar anak memiliki kemampuan mengontrol perilakunya dan mampu mengikuti proses pembelajaran secara optimal sesuai dengan potensi dan kemampuan anak. Ormrod (2011) memberi saran yang sebaiknya dilakukan guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas belajar anak secara kondusif, sebagai berikut :

Rancang dan modifikasi lingkungan dan jadwal belajar anak.  Salah satu gejala anak hiperaktif adalah melakukan perilaku yang tidak dikehendaki dengan secara progresif. Secara ideal, anak haruslah dapat melaksanakan kegiatan belajar yang kondusif pada pagi hari dan bukan pada sore hari. Anak hiperaktif selalu bergerak dari tempat duduk yang satu ke tempat duduknya lainnya, tidak pernah tinggal diam, apalagi untuk konsisten mengikuti pelajaran guru. Dengan mengamati belajar anak mengikuti gerak anak dan sifatnya fleksibel. Ciptakan lingkungan baru yang berbeda dari lingkungan belajar anak pada umunya.

Guru perlu mengajarkan strategi yang dapat dilakukan anak untuk memelihara dan menjaga perhatiannya agar konsisten . Dalam rangka itulah guru perlu mengajarkan stategi yang konkret dan dapat dilakukan anak secara konsisten. Contohnya, anak dapat diajarkan untuk tetap menatap wajah guru jika sedang memberikan penjelasan atau informasi baru kepada anak. Latih anak dengan cara menunjukkan bagaimana harus melakukannya.

Guru perlu menyediakan tempat bagi anak untuk menyalurkan energi yang tampaknya berlebihan. Misalnya dengan menyiapkan fasilitas olahraga dan aktivitas fisik lainnya. Ketika istirahat, ajak anak membaca komik atau majalah yang bercerita tentang kepahlawanan dan sejenisnya agar energy anak tersalurkan secara konstruktif. Ajak anak berdialog secara bebas namun mengandung makna agar anak mampu melakukan konsentrasi, sekalipun tidak sama dengan anak pada umumnya.

Bantu anak untuk mengatur kegiatannya dan menggunakan waktu secara efektif. Anak hiperaktif senantiasa sangat sulit menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru di dalam kelas. Untuk itu, anak sangat membutuhkan bantuan agar anak mampu melakukan tugasnya sesuai dengan kondisinya. Anak secara langsung diajarkan membuat jadwal kegiatan setiap hari. Apa yang harus dilakukan hari ini, bahkan setiap jam, dan tunjukkan cara melakukannya. Kontrol secara teliti apa yang dilakukan dan seharusnya dilakukan anak. Jadwal tersebut perlu juga melibatkan orang tua agar orang tua berperan aktif membantu perkembangan anak menjadi pribadi seperti anak lainnya.







Daftar Pustaka

Riyanti, B.P. & Hendro, P. 1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Surna, I. N. & Olga, D.P. 2014. Psikologi Pendidikan 1. Jakarta: Erlangga.
Slamet I.S., Suprapti. & Sumarmo, M. 2015. Psikologi Klinis. Jakarta: Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar