Selasa, 29 Maret 2016

Teori Kepribadian Sehat

Teori Kepribadian Sehat Menurut Aliran Humanistik, Aliran Psikoanalisis, dan Aliran Behavioristik.


A. kepribadian sehat humanistik

humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan  besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran Humanistik merupakan konstribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.
Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

B. Kepribadian Sehat Psikoanalisa

Menurut Psikoanalisa Keperibadian yang normal (sehat).

  • Kepribadian yang sehat menurut Freud adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah
  • Hasil dari belajar dalam mengatasi tekanan dan kecemasan. 
  • Kesehatan mental yang baik adalah hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego.
  • Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak-anak yang traumatis.
  • Individu bersifat egois, tidak bermoral, dan tidak mau tahu kenyataan.
  • Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
  • Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
  • Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
  • Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.


C. Kepribadian Sehat Behavioristik

Behaviorisme merupakan sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh J.B. Watson. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Selain Watson ada beberapa orang yang dipandang sebagai tokoh behaviorsime, diantaranya adalah Ivan Pavlov, E.L. Thorndika, B.F. Skinner, dll. Namun demikian bila orang berbicara kepribadian atas dasar orientasi behevioristik maka nama yang senantiasa disebut adalah Skinner mengingat dia adalah tokoh behaviorisme yang paling produktif dalam mengemukakan gagasan dan penelitian, paling berpengaruh, serta paling berani dan tegas dalam menjawab tantangan dan kritik-kritik atas behaviorisme
Teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku dan semua bentuk tingkah laku manusia. Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka, diperoleh melalui belajar dari lingkungan.
Namun perlu di sadari bahwa kelemahan dari Behavioristik adalah dalam teori clasical conditioning, manusia disamakan dengan “hewan” dan dalan operan conditioning manusia dianggap sebagai “robot” yang dapat dikondisikan sehingga manusia dapat di program. Dalam teori-teori ini manusia dianggap sebagai satu kesatuan yang sama. Pada kenyataannya manusia adalah mahluk yang unik (Teori Humanistik). Maka untuk mengetahui keseluruhan tentang kepribadian sehat kita tetap perlu mengetahui tentang teori Humanistik
Teori Kepribadian Sehat Menurut Allport, Fromm, Maslow, Rogers

Kepribadian Sehat Menurut Allport 
Secara umum teori Allport memberi definisi yang positif terhadap manusia, teori Allport itu telah membantu manusia untuk melihat diri sendiri sebagai mahkluk yang baik dan penuh harapan. Hal tersebut terlihat dari teorinya, yaitu” gambaran kodrat manusia adalah positif, penuh harapan dan menyanjung-nyanjung”. Memandang satu pribadi positif dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi sehat, inilah kelebihan dan kekuasan dari teori Allport.
Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kemudian Allport juga berpendapat bahwa kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah tentang antisipasi, Dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita.
Dalam teori Allportjuga memandang bahwa kesehatan psikologis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang, dapat dikatakan bahwa seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Freud.

Ciri-Ciri Kepribadian yang Matang Menurut Allport
Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi fungsional.
Kualitas Kepribadian yang matang menurut allport sebagai berikut:

1. Ekstensi sense of self
· Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas.
· Kemampuan diri dan minat-minatnya dengan orang lain beserta minat mereka.
· Kemampuan merencanakan masa depan (harapan dan rencana)

2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
Kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman)dan compassion (pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang).

3. Penerimaan diri
Kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal: mengolah dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.

4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan

Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi berbagai persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.

5. Objektifikasi diri: insight dan humor
Kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.

6. Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang mendasari semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya lewat agama. Untuk memahami orang dewasa kita membutuhkan gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki kedewasaan yang matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu apa yang ia lakukan.


Kepribadian Sehat Menurut Fromm

Fromm memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat. Orang yang demikian mencintai seutuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara obejektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan takdir, dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang.
Fromm menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif  , yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan orang yang mengaktualisasikan diri dari Maslow. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi” , Fromm menunjukan kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri sendiri.
Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan itu adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagian dan suara hati.
Cinta yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana rekan-rekan dapat mempertahankan individualitas mereka. Tercapainya cinta yang produktif merupakan salah satu dalam prestasi-prestasi kehidupan yang lebih sulit. Kita tidak “jatuh” dalam cinta; kita harus berusaha sekuat tenaga karena cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang – perhatian, tanggung jawab, respek, dan pengetahuan.
Pikiran yang produktif  meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
Kebahagian adalah suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif; kebahagian itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Fromm menuliskan bahwa suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana berhasilnya seseorang “dalam seni kehidupan”. Kebahagian merupakan prestasi kehidupan yang paling luhur.
Suara hati memiliki dua tipe, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanisti. Suara hati otoriter adalah penguasa yang berasal dari luar yang di internalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Sedangkan suara hati humanistis ialah suara dari dalam diri dan bukan juga dari suatu perantara dari luar diri. Pendoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internak dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyikapi seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan seluruh persetujuan dan kebahagian dari dalam. Kesehatan jiwa dalam pandangan Fromm di tetapkan oleh masyarakat, karena kodrat struktur sosial membantu atau menghalangi kesehatan psikologis. Apabila masyarakat-masyarakat yang sakit, maka satu-satunya cara untuk mencapai orientasi produktif ialah dengan hidup dalam suatu masyarakat yang waras dan sehat, yaitu masyarakat yang memajukan produktivitas.

Ciri-ciri Kepribadian Sehat
Menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat. 
  • Mampu mencintai dan dicintai. 
  • Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu,
  • Mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
  • Mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya.
  • Memiliki watak sosial yang produktif.


Kepribadian Sehat Menurut Maslow
Abraham Maslow mengatakan bahwa kepribadian yang sehat adalah Individu yang dapat mengaktualisasikan dirinya. Individu yang sehat adalah individu yang dapat mengaktualisasikan diri dengan baik dan imbang, yang artinya mengaktualisasikan diri secara optimal. Mereka dapat kebutuhan untuk memenuhi potensi-potensi yang mereka miliki dan mengetahui dan memahami dunia sekitar mereka. Syarat untuk dapat mengaktualisasikan diri sepenuhnya adalah memenuhi hierarki kebutuhan yang diatas.


Kepribadian Sehat Menurut Rogers 
Memahami dan menjelaskan teori kepribadian sehat menurut rogers, yang meliputi
Perkembangan kepribadian atau “self” Menurut Rogers, pribadi yang sehat muncul dari aktualisasi diri seseorang dalam kehidupannya. Pengalaman - pengalaman yang telah terjadi memotivasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. Perkembangan aktualisasis diri berubah sejalan dengan semakin bertambahnya umur sebagai akibat dari perkembangan biologik dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya.
Peranan positive regard dalam pembentukan kepribadian individu Kebutuhan tersebut disebut “need for positive regard” Kebutuhan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu :
    a. conditional positive regard (bersyarat)
 b. unconditional positive regard (tak bersyarat). 

Contohnya, seorang atlet cilik yang ingin selalu diperhatikan oleh orangtunya dan pelatihnya dan selalu ingin dipuji akan prestasinya yang selama ini ia gapai. 3. Ciri-ciri orang yang berfungsi sepenuhnya Pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami pengharagaan positif tak bersyarat. Karena ini penting, dihargai, diterima, disayangi, dicintai sebagai seseorang yang berarti tentu akan menerima dengan penuh kepercayaan



Daftar pustaka 

https://googleweblight.com/?lite_url=https://blograme.wordpress.com/2013/03/31/teori-kepribadian-sehat-menurut-aliran-humanistik-aliran-psikoanalisis-dan-aliran-behavioristik/&ei=6KN0HI80&lc=en-ID&s=1&m=324&host=www.google.co.id&ts=1459172571&sig=APY536xgCyPww71MWxKn-knJDiaTFvrZhw

https://googleweblight.com/?lite_url=https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/04/05/teori-kepribadian-sehat-menurut-erich-fromm/&ei=H1bRAw8l&lc=en-ID&s=1&m=324&host=www.google.co.id&ts=1459250962&sig=APY536yRHxGcBl9RusE0Oa-yY31PSs-LXA

https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/03/29/teori-kepribadian-sehat-menurut-abraham-maslow/

http://triaiseiri7.blogspot.co.id/2015/03/teori-kepribadian-sehat-menurut-aliran.html?m=1

Rabu, 23 Maret 2016

Konsep Normal dan Abnormal

PENDAHULUAN

Dalam keseharian orang normal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang tergolong abnormal di luar kesadarannya. Sebaliknya orang abnormal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan lisan seperti orang normal. Terkadang, kita salah mempersepsikan apakah perbuatan atau perkataan diri sendiri atau orang lain termasuk kriteria normalkah? Atau abnormalkah? Oleh karena itu, diperlukan batas-batas yang membedakan antara normal dan abnormal sehingga kita dapat membedakan antara normal dan abnormal sehingga kita dapat membedakan secara jelas.

TEORI

Definisi Umum

Berikut pengertian keadaan normal secara konseptual :
Sehat adalah keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa keadaan yang lemah tertentu.

H.B. English, seorang psikolog, memberikan rumusan sebagai berikut : “kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap dimana sang pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri. Kesehatan mental merupakan keadaan positif bukan sekedar absennya gangguan mental”.

W.W. Boehm, seorang pekerja sosial, memberikan sesuatu pengertian, “kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.”

Dari rumusan tersebut menekankan normalitas sebagai keadaan sehat yang secara umum ditandai dengan penyesuaian diri yaitu menjalankan kewajiban serta tuntutan hidup sehari-hari sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.

Konsep Normal
Manusia yang normal adalah manusia yang perilakunya dapat diterima oleh masyarakat.
Definisi normal menurut beberapa tokoh :

Stern (1964)
Stern mengusulkan 4 aspek untuk menilai normal atau tidaknya seseorang , yaitu :

Kemampuan integrasi
Ialah fungsi ego dalam mempersatukan, megkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi suatu perilaku atau pemikiran, makin baik.

Ada tidaknya symptom gangguan
Kesulitannya adalah bahwa pada kasus-kasus tertentu, misalnya gangguan kepribadian, seringkali simptomnya tidak jelas dan subyek tidak punya keluhan.

Kriteria psikoanalisis
Yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual.

Determinan sosiokultural
Lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.

Ulmann dan Krasner (1980)
Tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau abnormal, tetapi harus dilihat sebagai hasil dari keadaan masa lalu masa kini, statistik, dan legal (hokum) tentang abnormalitas.
Menghubungkan tingkah laku manusia dengan kompetensi, tanggung jawab atas perbuatan kriminal serta komitmen.

Gladstone (1978)

William Gladstone dalam bukunya “Test Your Own Mental Health” meguraikan pegangan-pegangan praktis untuk menilai kesehatan mental sendiri.

7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu:
Ketegangan
Suasana hati
Pemikiran
Kegiatan (aktivitas)
Organisasi diri
Hubungan antar manusia
Keadaan fisik

Masing-masing aspek memiliki kriteria tingkah laku yang dijadikan pegangan penilaian ‘normal’ nya penyesuaian.

Konsep  Abnormal
Suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Perilaku abnormal (abnormal behavior) bagi para ahli psikologi seringkali disebut dengan gangguan perilaku (behavior disorder), atau ada juga yang menyebutnya lain dengan mental illness (Morgan dkk., 1984).
Untuk mendefinisikan abnormalitas tersebut Atkinson dkk. (1922) mencoba membandingkannya antara perilaku abnormal dengan perilaku normal. Beberapa cara untuk mendefinisikan perilaku abnormal antara lain adalah :

Penyimpangan dari Norma Statistik
Kata abnormal dapat berarti “di luar normal”. Definisi abnormalitas didasarkan kepada penyimpangan kurve normal dalam statistik. Pendefisian ini barangkali menjadi lemah, karena bagi orang yang cerdas atau sangat gembira akan dapat digolongkan sebagai abnormal.

Penyimpangan dari Norma Sosial
Perilaku yang dianggap dianggap normal oleh suatu masyarakat bisa jadi dianggap abnormal oleh masyarakat lain. Misalnya, perilaku poliandri bagi kebanyakan masyarakat di dunia dianggap sebagai abnormal, sementara bagi masyarakat gurun di Nepal, dimana pria umumnya bekerja berhari-hari meninggalkan istrinya, perilaku poliandri dianggap normal-normal saja. Jadi, baik perilaku normal maupun abnormal ternyata berbeda-beda dari kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya.

Perilaku Malapdaptif
Kriteria terpenting adalah bagaimana perilaku tersebut berpengaruh pada pribadi seseorang dan/atau kelompok. Oleh karena itu perilaku abnormal kemudian disebut perilaku maladaptif (tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan), yang memiliki dampak yang merugikan dan membahayakan orang lain atau masyarakat.

Kesusahan Pribadi
Kriteria keempat untuk menilai abnormalitas adalah dari sudut pandangan subjektif seseorang dan bukannya perilaku orang tersebut. Umumnya orang yang didiagnosis menderita “sakit jiwa” mengalami penderitaan batin yang akut, selalu khawatir, batinnya menderita, gelisah, tidak dapat tidur, nafsu makan hilang, mengalami berbagai macam rasa sakit dan nyeri. Terkadang penderitaan batin hanyalah merupakan gejala abnormalitas, dimana perilaku penderita tampak normal-normal saja bagi orang awam.

Neurosis dan Psikosis
Neurosis atau gangguan jiwa adalah gejala yang umum yang dialami oleh manusia pada taraf tertentu. Neurosis mencakup sekelompok gangguan yang ditandai dengan stress, kecemasan, kesedihan, atau gangguan maladaptif lain yang pada tingkat tertentu perlu dirumahsakitkan. Individu umumnya masih dapat berhubungan dan berfungsi di masyarakat, meskipun tidak dalam kapasitas yang penuh. Sementara itu psikosis meliputi gangguan yang lebih serius. Perilaku dan proses berpikir individu sudah mengalami gangguan sedemikian rupa, sehingga sudah tidak ada lagi kontak dengan realitas. Individu juga tidak dapat berfungsi di masyarakat. Oleh karena itu, penderita psikosis tersebut perlu untuk dirumahsakitkan.


Klasifikasi Gangguan
Beberapa perilaku dapat diklasifikasikan atau digolongkan sebagai perilaku abnormal. Berdasarkan sifatnya, perilaku abnormal dapat digolongkan menjadi empat :
Yang bersifat akut dan sementara, yang disebabkan oelh peristiwa yang penuh dengan stress
Yang bersifat kronis dan selama-lamanya
Yang disebabkan oleh penyakit atau kerusakan pada sistem saraf
Yang merupakan akibat dari lingkungan sosial yang tidak menguntungkan dan/atau pengalaman belajar yang keliru.


Analisis
Leny berusia 7 tahun. Saat ini dia duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Orang tuanya seringkali mendapatkan masukan dan laporan dari gurunya bahwa dia seringkali jalan-jalan di kelas. Leny lebih banyak berdiri dan tidak fokus pada pekerjaan sekolahnya. Orang tuanya pun mengakui bahwa dirumah pun seperti itu. Seringkali Leny berganti-ganti aktivitas dan tidak pernah sampai selesai. Misalnya, bermain bongkar pasang dan selang beberapa menit kemudian sudah beralih pada permainan yang lain. Kondisi seperti ini bisa mempengaruhi prestasinya di sekolah. Leny seringkali sulit dikontrol. Dia sering mengabaikan apa yang orangtuanya perintahkan.
Hal ini dapat terjadi karena dia tidak dapat menyelesaikan tugas dengan penuh perhatian dan proses belajar yang terganggu. Oleh sebab itu sangat penting jika orang tua maupun pendidik dapat melakukan deteksi atau mengetahui lebih awal yang terjadi pada anak sehingga dapat dilakukan penanganan dengan tepat.
Pada kasus Leny dan yang akan kita bicarakan lebih jauh merupakan sebuah ilustrasi mengenai Gangguan Pemusatan Perhatian atau Attention Deficit/ Hiperactivity (ADHD).

Attention-Deficit Hyperactivity Disorder ( ADHD )

ADHD adalah sebuah gangguan dengan karakteristik adanya gejala kurang perhatian yang diikuti dengan hiperaktivitas maupun tidak (Monastra, 2005).
Bentuk dan Karakteristik Hyperactivity Disorder
Anak yang tergolong pada kategori ini menunjukkan perilaku yang konsisten dalam hal perilaku yang diluar batas normal seperti anak-anak pada umumnya. Terdapat kategori anak yang tergolong hyperactivity disorder menurut Ormrod (2011), Santrock (2009), dan Eggen (2004), yaitu :

INATTENTION. Anak yang tergolong pada kategori ini mengalami kesulitan untuk memfokuskan perhatian dan menjaga kestabilan perhatian, terutama dalam mengerjakan tugas. Anak mengalami kesulitan mendengar dan mengikuti perintah, sering membuat kekliruan, dan salah paham atau sangat mudah melakukan hal-hal di luar dugaan.

HYPERACTIVITY. Anak yang tergolong kategori ini tampaknya memiliki tenaga yang berlebihan, bergerak dengan tidak berarah ke mana saja semaunya tanpa memperhatikan orang lain atau aturan yang berlaku, dan sering membuat keributan di antara teman sebayanya.

IMPULSIVITY. Anak yang tergolong kategori ini memiliki kesulitan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan dan tidak memperhitungkan risiko yang akan ditimbulkan. Perilakunya tiba-tiba muncul secara spontan tanpa pernah memperhatikan lingkungan dan tidak pernh memikirkan apa dampak dari perbuatannya.

Adapun karkteristik umum yang dapat diamati dari anak yang tergolong hiperaktif tersebut menurut Ormrod (2011) adalah :

Menunjukkan kreativitas dan imajinasi di luar kebiasaan

Mengingat secara mendetail peristiwa masa lalu yang dialaminya

Proses kognitifnya mengalami hambatan pada hal-hal tertentu dan prestasi belajar rendah

Ketidakmampuan memahami diri sendiri
Selalu membuat masalah didalam kelas, perilakunya sulit dikendalikan secara normal

Keterampilan sosialnya sangat rendah dan banyak ditolak oleh teman sebayanya

Perilaku tersebut terkadang terbawa ke masa remaja


Strategi Penyesuaian Pembelajaran bagi Anak Hiperaktif
Dengan mencermati keberadaan anak hiperaktif, maka diperlukan kemampuan guru dalam memberi pelayanan yang sesuai dengan kondisi anak, agar anak memiliki kemampuan mengontrol perilakunya dan mampu mengikuti proses pembelajaran secara optimal sesuai dengan potensi dan kemampuan anak. Ormrod (2011) memberi saran yang sebaiknya dilakukan guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas belajar anak secara kondusif, sebagai berikut :

Rancang dan modifikasi lingkungan dan jadwal belajar anak.  Salah satu gejala anak hiperaktif adalah melakukan perilaku yang tidak dikehendaki dengan secara progresif. Secara ideal, anak haruslah dapat melaksanakan kegiatan belajar yang kondusif pada pagi hari dan bukan pada sore hari. Anak hiperaktif selalu bergerak dari tempat duduk yang satu ke tempat duduknya lainnya, tidak pernah tinggal diam, apalagi untuk konsisten mengikuti pelajaran guru. Dengan mengamati belajar anak mengikuti gerak anak dan sifatnya fleksibel. Ciptakan lingkungan baru yang berbeda dari lingkungan belajar anak pada umunya.

Guru perlu mengajarkan strategi yang dapat dilakukan anak untuk memelihara dan menjaga perhatiannya agar konsisten . Dalam rangka itulah guru perlu mengajarkan stategi yang konkret dan dapat dilakukan anak secara konsisten. Contohnya, anak dapat diajarkan untuk tetap menatap wajah guru jika sedang memberikan penjelasan atau informasi baru kepada anak. Latih anak dengan cara menunjukkan bagaimana harus melakukannya.

Guru perlu menyediakan tempat bagi anak untuk menyalurkan energi yang tampaknya berlebihan. Misalnya dengan menyiapkan fasilitas olahraga dan aktivitas fisik lainnya. Ketika istirahat, ajak anak membaca komik atau majalah yang bercerita tentang kepahlawanan dan sejenisnya agar energy anak tersalurkan secara konstruktif. Ajak anak berdialog secara bebas namun mengandung makna agar anak mampu melakukan konsentrasi, sekalipun tidak sama dengan anak pada umumnya.

Bantu anak untuk mengatur kegiatannya dan menggunakan waktu secara efektif. Anak hiperaktif senantiasa sangat sulit menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru di dalam kelas. Untuk itu, anak sangat membutuhkan bantuan agar anak mampu melakukan tugasnya sesuai dengan kondisinya. Anak secara langsung diajarkan membuat jadwal kegiatan setiap hari. Apa yang harus dilakukan hari ini, bahkan setiap jam, dan tunjukkan cara melakukannya. Kontrol secara teliti apa yang dilakukan dan seharusnya dilakukan anak. Jadwal tersebut perlu juga melibatkan orang tua agar orang tua berperan aktif membantu perkembangan anak menjadi pribadi seperti anak lainnya.







Daftar Pustaka

Riyanti, B.P. & Hendro, P. 1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Surna, I. N. & Olga, D.P. 2014. Psikologi Pendidikan 1. Jakarta: Erlangga.
Slamet I.S., Suprapti. & Sumarmo, M. 2015. Psikologi Klinis. Jakarta: Universitas Indonesia